Sebuah karya yang fantastis dari seorang Risa Saraswati, sudah banyak cerita yang sudah dia hasilkan dan di jadikan buku, diantaranya Buku Danur ditahun 2011 dan Buku Maddah ditahun 2012....
Nah ini salah satu cerita terbarunya yang saya ambil dari blognya Risa Sarawati (maaf ga izin) hehehee,,, check This Out....http://www.risasaraswati.com/2013/02/aku-tidak-gila.html
Friday, February 22, 2013
Aku tidak gila...
Tuhan telah menciptakan begitu banyak mahkluk istimewa di muka bumi ini,
dan dia adalah satu diantara sekian banyak mahkluk istimewa yang Tuhan
cipta, beruntungnya aku karena mahkluk itu kini menjadi sosok yang
begitu menyayangiku. Namanya Draka, aku mengenalnya selama belasan
tahun... Saat orangtuaku mulai mengijinkanku berjalan keluar rumah, dan
saat itulah Draka datang untuk pertama kalinya. Seorang laki-laki dewasa
yang selalu mengawasiku dan membimbingku saat kedua orangtuaku
disibukkan oleh pekerjaan-pekerjaan mereka. Ya... Draka ada disana, di
tengah waktu-waktu yang hilang antara aku dan kedua orangtuaku.
"Ka, aku mau minta ditemenin jajan!!!"
"Ka, aku bingung mau pilih sd yang mana..."
"Ka, anak kelas 2D itu nakal sekali!! Selalu gangu aku!!!"
"Ka, aku susah tidur... Malam ini datang ke rumahku yah!! Aku rindu saat
saat kecil dulu, rasanya ingin dibacakan lagi cerita pengantar tidur
olehmu... Tenang aja, mama papa ku sedang ke luar kota..."
"Ka, besok aku ulangtahun ke 17. Aku mau hadiah hadiah hadiah!!"
Begitulah Draka, 80% kehidupanku diisi oleh dirinya. Hampir semua
keputusan yang kubuat selalu diputuskan bersama-sama dengannya. Sosoknya
tak pernah berubah, selalu bijaksana... Dewasa... Penuh senyum. Dia
datang dan pergi begitu cepat, saat aku membutuhkannya. Tak seperti
kedua orangtuaku, yang mungkin hanya mengisi 5 % kehidupanku. Tanpa
bimbingan Draka, mungkin aku tak akan bisa kuat dan bertahan seperti
saat ini.
Draka berumur 22 tahun, dan aku kini 19... Umur yang sepadan untuk
saling mengasihi, dan begitu sepadan jika aku memang harus terus
bersamanya. Selama aku hidup, tak pernah ada satupun orang yang bisa
benar-benar berteman denganku... Mereka bilang aku aneh, aku gila, aku
egois. Hanya beberapa orang saja yang datang menemuiku saat pekan ujian,
biarpun aneh... Prestasiku di bidang akademis cukup membanggakan, semua
berkat Draka yang selalu rajin mengajariku banyak ilmu. Draka merupakan
mahasiswa perguruan tinggi ternama kota ini, teknik informatika adalah
jurusan yang diambilnya. Papa memintaku meneruskan jenjang pendidikan S2
kelak di Amerika, padahal sekarang saja aku baru duduk di semester 2.
Entah kenapa rencana Papa itu membuatku semakin merasa jauh dengan Papa,
aku benci dia yang tiba-tiba merencanakan hal yang tak aku inginkan,
padahal selama ini aku menentukan banyak pilihan tanpa campur tangannya.
Betapa hebat menjadi orangtua, mereka bisa seenaknya mengatur jalan
hidup anak-anaknya. Yang kuinginkan adalah segera menyelesaikan kuliahku
dan pergi bersama Draka...
"Ka, aku mau pergi ke tempat foto copy, ngecopy banyak tugas kuliahku.
Kamu mau ikut? Aku ga akan bawa mobil, mau jalan kaki ajah... Ke komplek
sebelah." Draka menggelengkan kepalanya, "Kamu pergi sendiri saja ya?
Aku ga temenin gapapa ya? Kan masih siang, ga akan ada apa-apa, ngga
usag takut...". Aku tersenyum membalasnya, " Yeeey siapa bilang aku
takuttt?!?! Kan aku daritadi juga ga bilang gitu weeeks, yaa kali aja
kamu mau romantis-romantisan sama aku jalan berdua hihi. Ah siapa juga
yang mau liat ya ka?!?! Ya udah tunggu aku ya, aku pergi bentar ko."
Draka sedikit tertawa geli melihat tingkahku, aku memandangnya sebelum
pergi sambil terbahak melihat reaksi wajahnya... Betapa aku
menyayanginya... Betapa beruntungnya aku memilikinya...
Gerah sekali siang ini, berkali kali kuusap peluh yang membasahi
keningku sementara tangan kiriku membawa beberapa lembar berkas data
yang akan ku fotocopy. Masih tinggal beberapa blok lagi namun rasanya
terasa begitu berat karena udara yang begitu pengap mencucurkan banyak
keringat. Jalanan perumahan ini tak biasanya seramai ini, motor dan
mobil bersliweran dengan kecepatan tinggi, lagi-lagi menghambat
perjalananku. Rambutku yang terurain panjang mulai beruraian menutupi
mata sebelah kanan akibat terpaan debu yang terhempas mobil yang barusan
melaju cukup kencang melintas disampingku. "Astaga!! Bisa ngga sih
nyetirnya santey woy!!!!", aku berteriak cukup keras disertai acungan
jari tengah tanganku ke arah mobil itu. Tanganku kembali membetulkan
posisi rambut ke posisi seperti biasanya, tangan kiriku rupanya agak
kerepotan memegangi banyak berkas, hingga satu persatu berkas ditanganku
mulai berjatuhan. "Huh!!! Sialan!!", kupunguti berkas itu satu persatu,
salah satunya jatuh tepat ditengah jalanan. Aku memang pemarah dan
tidak sabaran hingga tanpa pikir panjang badanku melompat ketengah
jalan.
Sebuah mobil yang sedang melaju di jalan itu dengan kecepatan yg sama
seperti mobil tadi tiba-tiba tampak begitu jelas di depan kedua mataku.
Mataku terbelalak kaget, begitupula mata pengendara mobil itu yang sama
kagetnya sepertiku. Suara benturan tubuhku dengan mobil itu terdengar
begitu jelas sesudahnya... Tak terelakan.
"Draka...", hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutku.
"Ti, Titi... Bangun sayang...", wajah Draka memenuhi mataku saat ini.
"Ka, aku dimana? Kenapa aku?", dengan perasaan bingung aku mencoba
menebak-nebak yang sebelumnya terjadi kepadaku. "Kamu masih disini,
jalanan menuju tempat foto copy", jawaban Draka sama sekali tak
memuaskan rasa ingin tahuku. Kutatap suasana disekitarku, masih dalam
posisi terbaring... Astaga, begitu banyak orang mengelilingiku, sebagian
menangis memandangku... Sisanya sibuk hendak mendekatiku dan mengangkat
tubuhku. Benar saja, beberapa laki-laki bertubuh besar kompak mencoba
mengangkat tubuhku. "Ka, apa-apaan sih orang-orang ini?! Aku ga kenapa
napa ko mereka sibuk banget sih?!", aku berusaha mengelak sementara
Draka hanya diam memandangiku dengan wajah sedihnya. "Loh ka! Ka! Ko
gini sih?! Ka! Ka! Mereka ko maksa ngangkat tubuh... Ku...",
tenggorokanku tercekat setelahnya.
Kulihat tubuhku diangkat oleh mereka, tangisan orang-orang
disekelilingku semakin pecah. Mataku menatap lurus pada Draka, yang
dilakukan Draka hanya menganggukkan kepalanya ke arahku... Sambil terus
menunduk perih. Saat itulah aku tersadar... Tubuhku dibawa pergi, sedang
entah apa aku sekarang ini karena bisa kulihat tubuhku pergi
meninggalkanku sementara aku masih terkulai lemas diatas jalanan... Dan
mereka semua, tak menyadari keberadaanku...
"Ka...?!", tanpa menjawab pertanyaanku Draka terus menerus mengangguk
seperti mengiyakan pertanyaan yang belum sempat terlontar dari mulutku.
"Mama... Pa...", saat itulah kepalaku mulai dipenuhi sosok kedua
orangtuaku, perasaan bersalah karena belum banyak menghabiskan waktu
dengan mereka tiba tiba saja muncul. Draka menggenggam tanganku seolah
tahu apa yang ada di dalam kepalaku.
"Mereka akan baik-baik saja... Begitu pula kamu, aku benar-benar bisa
menjagamu kini", senyumnya merekah membuatku mulai mengangkat kepalaku
menatapnya. "Ka, mereka semua salah ya Ka... Mereka bilang aku gila,
mereka bilang aku aneh karena sering berbicara denganmu... Ternyata kamu
benar-benar ada dan sekarang benar-benar bisa kusentuh", tanganku mula
antusias memegangi wajah Draka. Draka hanya tersenyum sambil
mengusap-usap rambutku. "Akan kutunjukkan banyak hal yang pasti kau
ingin tahu..."
Kulangkahkan
kakiku, melangkah menuju tempat dimana seharusnya aku berada. Draka
yang selama ini mereka bilang teman imajinerku lah yang membimbingku
untuk terus berjalan tanpa harus menatap kebelakang. Terimakasih Tuhan
telah menciptakan mahkluk istimewa sepertinya, dan menjadikanku mahkluk
pendampingnya yang akan mengikuti langkahnya entah sampai kapan...
Mama... Papa... Aku baik-baik saja, Draka benar-benar bisa kalian andalkan... Suatu saat semoga bisa kukenalkan dia pada kalian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Setelah Baca Harap Isi Komentar anda